Jumat, 04 September 2015

Prolog Mari Mengajar 4

Dalam Islam kita diperintahkan untuk berbuat baik kepada siapapun dan dengan cara apapun. Misalnya mengajarkan ilmu, menganjurkan berbuat kebaikan, menyambung silaturrahim, berbakti kepada orang tua, mendamaikan perseteruan, memberi nasihat, dan lain sebagainya.
Termasuk juga Mari Mengajar ini. Mari Mengajar adalah program kerja dari Forkoma (Forum Komunikasi Mahasiswa Banten) UI yang merupakan gerakan sosial aksi mengajar di pedalaman Banten oleh mahasiswa asal Banten seluruh Indonesia. Dan saat ini sudah tahun ke-4 program kerja ini terselenggara. Selain mengajar disana juga ada kegiatan proyek sosial seperti membuat taman baca, EO hari kemerdekaan, dan lain sebagainya. Logo Mari Mengajar 4 (MM4) adalah pesawat kertas yang mempunyai arti terus terbang menebar inspirasi, mendaratlah di saat dan tempat yang pasti. Siap melukis cerita baru yang tak akan pernah terlupakan.
Inilah kisahku dalam mengikuti MM4. Berawal dari temanku yang paling cetar membahana bernama Titin membuat status di Facebooknya tentang MM4. Dalam statusnya berisi tentang informasi singkat MM4 dan formulir pendaftaran. Setelah membaca dengan seksama tidak terbesit dalam pikiranpun untuk mengikutinya. Karena harus tinggal di kampung orang 10 hari lamanya dari tanggal 14 sampai dengan 23 Agustus 20115. Pikirku dalam waktu selama itu pasti banyak yang harus dikorbankan dan sangat beresiko. Dan tiba saatnya akhir pendaftaran MM4 pada tanggal 2 Juli 2015. Ditanggal segitu aku tidak mendaftar dan melewati kesempatan untuk menginspirasi dan diinspirasi.
Beberapa bulan berlalu dengan cepatnya, sudah tanggal 11 Agustus 2015 sekarang. Tentang MM4 aku sudah melupakannya. Tapi ternyata pada malam harinya pada tanggal ini aku diajak ikut MM4 untuk menggantikan seseorang yang berhalangan ikut. Temanku yang bernama Anisa inilah yang mengajakku untuk ikut MM4. Tanpa berpikir panjang akupun setuju untuk ikut MM4. Disini masalahnya muncul, aku telalu naïf untuk ikut. Setelalah dipikir pada waktu 10 hari itu agendaku cukup padat. Mulai dari menemui dosen, Menemani teman mengisi materi di tempat KKN, Liqo, Melamar pekerjaan, yang paling penting pada tanggal 22-23 Agustus untuk menghadiri wisuda teman-temanku tersayang padahal namaku ada di dalam skripsi mereka, dan lain sebagainya. Tapi sebagai lelaki sejati pantang bagiku menarik ucapannku sendiri.  Akhirnya dengan segala daya dan upaya aku mengosongkan jadwal untuk ikut berpartisipasi dalam MM4.
Kepusinganku tidak cukup sampai disitu. aku sama sekali tidak tahu apa itu MM4 akhirnya aku banyak nanya ke Anisa, Titin, dan Rahil. Oh iya Rahil  itu ternyata salah satu orang yang merekomendasikan aku ikut MM4. Mahasiswi anggun asal Aceh. Orang yang pernah aku jahatin di masa lalu. Orang yang selama pelatihan MM4 paling bersinar. skip skip skip. kepusinganku antara lain karena ga pernah ikut pelatihan sama sekali, rute perjalanan, dan barang bawaan. Anisa yang memberitahuku barang bawaan, Titin yang memberitahuku rute perjalanan, dan Rahil memberitahuku segala macam tentang MM4. Untungnya ada mereka semua yang memudahkanku untuk mengerti.
Pada tanggal 12 Agustus 2015, Aku sudah mulai mencari barang bawaan untuk MM4 ga begitu sulit sih hanya saja harus ada yang perlu dibeli dan itu ga sedikit terpaksa aku merengengek kepada orang tua guna mengalirkan dana segar. Untung mereka pengertian hehe. Dan dihari ini aku juga menghubungi Ulfi orang yang aku gantikan alasannya karena dia pindah kuliah di Lampung. Panitia MM4 juga menghubungiku untuk mengkonfirmasi kebenaran bahwa aku ngenggantikan Ulfi. Aku juga menghubungi Mentari mahasiswi jurusan kimia ITB yang jadi parterku dalam mengajar 10 hari kedepan. Sebagian barang sudah terkumpul tinggal esok hari mengumpulkan sisanya.
Sekarang tanggal 13 Agustus 2015 H-1 sebelum keberangkatan. Hari ini aku Menghubungi Maleh teman paling baik dan sudah aku anggap sebagai organ tubuh eksternal. Tujuan menghubungi dia adalah untuk mengurus masalah akademik ketika aku berada disana. Dia pun sangat pengertian dan menyanggupinya. Di hari ini juga aku juga meminjam barang bawaan yang tidak bisa terbeli olehku keteman-temanku. Masalah lain muncul ternyata, dari Ciputat ke tempat cek poin pertama di Serang ternyata harus berangkat sendiri-sendiri. Saat itu juga terbesit untuk tidak jadi ikut karena aku malas berangkat sendirian. Akhirnya aku menghubungi Rahil lagi menanyakan dia berangkat dengan siapa. Ternyata dia berangkat sendirian juga. Akupun dengan rasa malu yang sangat karena dulu pernah jahatin meminta berangkat bareng Rahil. Ternyata dia mau juga berangkat  bareng hehe. Makasih Titin soalnya kamu yang merekomendasikan supaya kita berangkat bareng. Dan setelah memohon izin kesana-kemari akhirnya aku dengan mantap menatap hari esok untuk bersiap menginspirasi dan diinspirasi. ^^

Rabu, 02 September 2015

Mutiara dalam Selokan

Kisah Ini terjadi di pinggiran kota Tokyo...
Di sore hari yang terik sepulang kuliah aku langsung memisahkan diri dari teman-temanku dan berjalan sendirian tak tentu arah sampai aku menuju minimarket untuk membeli 3 buah es krim. aku membeli sebanyak itu hanya untuk aku sendiri karena selain panas, suasana hatiku sedang kacau-balau. Mungkin dengan makan es krim sebanyak itu bisa menjadi pelipur laraku. Karena pada siang harinya aku menerima surat undangan pernikahan dari wanita yang dulu pernah aku sukai. Setelah membelinya aku berjalan mencari tempat yang pas untuk memakan es krim tersebut. Tidak lama berjalan, aku menemukan tempat yang strategis. Ada bangku yang tertutup kanopi di pinggir jalan yang di seberangnya terdapat selokan yang besar sekali tanpa penutup. Kedalamannya kira-kira 1,5 meter dan dipenuhi oleh air limbah rumah tangga. setelah aku duduk dibangku tersebut aku langsung membuka salahsatu es krim dan langsung menikmatinya. Selagi memakan es krim aku mengamati keadaan sekitar tempatku duduk. jalanan sangat sepi tak ada seorangpun yang melewatinya. Lalu sayup-sayup terdengar suara meongan kucing. Suaranya tidak ada hentinya. Aku sangat malas beranjak dari tempat duduk mencari sumber suara tersebut. Lalu melintaslah seorang wanita dengan pakaian rapih melintas didepanku. Jalannya santai nan anggun. Setelah dia melewatiku, aku terus memandangnya dari belakang. karena hanya itu pemandangan terbaik yang ada saaat ini. Dia berjalan dari tengah jalan lama-lama terus kepinggir jalan mendekati selokan. Dan burrrr dia menceburkan diri keselokan tersebut. Karena panik aku membuang es krim yang ada digenggamanku dan buru-buru langsung menghampirinya guna menolongnya. “Kamu gapapa ?” kataku. Dengan pakaian bagian bawah dan lengan kotor serta ditangan kanannya memegang anak kucing dia tersenyum kepadaku dan berkata “gapapa hehe.” Sambil mengulurkan tangan aku membantunya keluar dari selokan tersebut. Setelah itu aku mengajaknya duduk di tempat semula aku duduk untuk membersihkan anak kucing. lalu aku mengeluarkan tissue dari dalam tas dan berkata, “Pakai ini aja ya bersihinnya.” Dia menjawab, “ohh iya makasih banyak.” Dia membersihkan anak kucing tersebut dengan lembut dan telaten. Aku melihatnya dengan penuh rasa kekaguman. Setelah anak kucingnya bersih dia melepasnya di tempat yang aman. “naahh selesai juga” dia berkata seperti itu kepadaku dengan muka yang berseri-seri. Membuat perasaan kacau-balau yang semula aku rasakan sirna seketika.
Setelah dia duduk kembali di tempat semula, aku menawarkan tissue kembali ke dia untuk mengelap pakaiannya yang kotor. Selagi mengeluarkan tissue, didalam tasku tersisa 2 buah es krim yang niat awalnya aku makan sendiri. Lalu aku memberinya tissue dan satu es krim kepadanya. Dengan mata berbinar dia berkata,”makasih banyak.” Setelah dia mengelap pakaiannya yang kotor, kita berdua makan es krim sambil menatap jalananan yang kosong dan bercakap-cakap. Dari hasil percakapan kita informasi yang aku dapat adalah dia bernama Himawari seorang mahasiswi yang seangkatan denganku dan kuliah di fakultas yang sama. Dia bercerita sebenarnya saat ini dia ingin pergi ke perpustakaan untuk belajar namun mengurungkan niatnya setelah pakaiannya kotor guna menyelamatkan anak kucing. Setiap perkataan dia dihiasi dengan senyuman membuat aku ingin terus melihat dia berbicara karena menentramkan hati. Es krim kita berdua sudah habis lalu dia berkata, “Makasih banyak, maaf merepotkan. Aku mau pulang lagi ke asrama untuk membersihkan diri. Senang berkenalan denganmu.” Aku berkata,” Iya sama-sama. Makasih juga sudah mau berkotor ria demi menolong anak kucing.” Lalu dia pergi dengan baju kotor yang sudah mulai mengering, namun kebersihan hatinya menutupi pakaiannya yang kotor. Dalam hati berkata, ”ingin sekali rasanya menikah dengannya.”


Nb. Cerita ini terinspirasi dari seorang teman yang sering kecebur ke comberan.



Selasa, 01 September 2015

Pinguin

Jalanmu melenggak-lenggok seperti model di catwalk
Sesekali melompat seperti atlet voli
Warnamu countershaded yang memukau
Membuat kamu tampak lucu

Tak bisa terbang walau kau burung
Menyelam di dinginnya lautan
Merenangi luasnya samudera
Melindungi satu sama lain ditengah dinginnya antartika

Yang paling penting kamu sangat setia
Satu pasangan seumur hidup
Anak bergantian dirawat jantan dan betina
Membuat erat jalinan cinta