Senin, 19 Oktober 2015

Sajak Merpati



Pagi ini begitu sejuk. Masih tercium bau petrichor menyengat bekas hujan tadi subuh. Iya bau ini bau yang khas yang hanya aku dapati disini. Burung-burung pun saling membalas kicauan menambah suasanya kenyamanan taman ini. Taman yang relatif luas ini dengan rindang daun dan jejeran bangku panjangnya menjadikan tempat untuk orang-orang melepas penat dan suntuk. Di salah satu bangku panjang disudut pintu taman ini aku duduk memperhatikan sekitar. Banyak yang sedang berolahraga, banyak pasangan muda yang sedang memadu kasih dan banyak juga yang sekedar duduk sepertiku. Semuanya tidak ada yang menarik dimataku. Sampai aku melihat wanita yang sangat aku kenal bermain bersama anak kecil yang usianya sekitar 3 tahun.

Pikiranku pun mengawang ke beberapa tahun silam saat aku dan wanita tersebut melewati banyak momen bersama. Kita dipertemukan disalah satu unit kegiatan mahasiswa. Awalnya biasa saja tidak ada yang spesial. Tapi sangat seringnya kita dipertemukan dalam kepanitiaan acara timbul benih-benih virus yang berbentuk seperti hati merasuki kedalam tubuhku. Perangai dan pembawaan sikap dikesehariannya yang sederhana membuat aku tertarik ikatan jerat tali lasso wonder womannya.

Tak terasa bertahun-tahun kita menempuh pendidikan dikampus ini. Sampai tiba saatnya wisuda. Kita pun wisuda diwaktu yang bersamaan. Aku bahagia, diapun bahagia.Tapi rasa bahagiaku sirna seketika saat beberapa hari setelah wisuda aku terima surat undangan pernikahan darinya langsung tanpa perantara. Dan dia hanya berkata dengan senyuman termanisnya, “datang ya.” Dan langsung pergi seketika tanpa memikirkan perasaanku. Ranting rapuh yang dipatahkan oleh para pencari kayu bakar. Itulah gambaran hatiku ketika aku menerima surat udangan pernikahan darinya. Undangannya begitu cantik bewarna merah muda dan bertuliskan inisial Z&O yang bewarna emas. Sesampainya di rumah Akupun langsung menyimpan surat undangan itu disudut ruangan yang tak terjamah. Tanpa pikir panjang hari itu juga aku langsung pamit kepada orangtua untuk pergi merantau kesuatu daerah. Sebelum pergi tak lupa aku menghapus semua akun media sosialku dan membuang simcard yang aku pakai selama bertahun-tahun. Karena dengan cara itu aku membuang semua pikiran dan kenangan tentangnya. Pada akhirnya perasaanku hanyalah merpati terbang di langit, di kakinya terselip kertas berbait-bait kata tapi ia telah hilang alamat.

Setelah melanglang jauh ke dalam kenangan yang lampau. Kembali aku memperhatikan wanita yang dulu pernah mengisi hatiku. Dia yang saat ini begitu anggun dan dewasa. Aku tak lupa memperhatikan anaknya yang begitu sehat dan menggemaskan. Mereka berdua bermain dengan bahagia bahkan mataharipun tersenyum manis melihat mereka. Dalam pikiranku begitu lega karena suaminya sangat sanyang dan memperhatikannya.

Aku tetap memperhatikannya sampai mereka berdua beranjak dari tempat semula dan berjalan menuju keluar taman. Dan sialnya pintu keluar taman itu persis beberapa meter dengan kursi panjang tempat aku duduk memperhatikannya. Tidak ada kata yang aku siapkan untuk berbincang dengannya dan tidak ada pula pendengaran yang aku siapkan untuk mendengarnya bercerita. Tidak perlu waktu lama untuk wanita itu mengenaliku. Dengan takjub dia lalu duduk disebelahku dan berkata,”Vava kemana aja ?.” Aku pun dengan gugup yang sangat mencoba bercerita panjang lebar kemana aku selama 3 tahun ini ke Zainab. Iya nama wanita yang membuat aku kabur dari rumah bernama Zainab. Sampai pada aku bertanya kepadanya,”Ini anak kamu nab ?.” Lalu Zainab menjawab,”(sambil tersenyum) Bukan, aku aja belum menikah. Ini keponakan aku, anaknya saudara kembar aku si Zaini.” Mendengar jawaban itu akupun terasa lemas sekali antara senang dan kalut. Aku bertanya lagi,” Jadi surat undangan pernikahan yang 3 tahun lalu yang kamu kasih ke aku itu undangannya Zaini ?.” Zainab menjawab dengan heran,”Iyalah emang kamu ga baca isinya apa ?.” Setelah beberapa percakapan lagi akhirnya Zainab pulang dengan keponakannya yang lucu. Lalu keponakannya memberikan tersenyum dan kiss byean termanisnya seakan dia mengerti suasana hatiku. Dan akhirnya mereka  berlalu meninggalkanku ditaman ini.

Tidak lama setelah Zainab pulang, aku pun langsung bergegas ke rumah dan mencari surat undangan pernikahan dipojok ruangan yang tak terjamah. Ternyata surat undangan pernikahan itu masih ada. Masih terlihat bagus walau tertutup debu yang membuatnya terlihat usang. Aku membukanya dengan hati bergemuruh layaknya mendung disenja hari. Setelah dibuka ternyata benar kata Zainab, yang menikah itu Zaini dan Ova sesuai dengan inisial yang terpampang disampul surat undangan pernikahannya.

Seperti orang bodoh aku disudut ruangan yang tak terjamah ini. Senyum yang aku sunggingkan tak ubahnya seperti pelangi yang bermacam-macam warna itu. Harapan pun kembali mengembang seperti layar kapal yang berguna untuk mengarungi luasnya samudera. Dan pada akhirnya merpati yang tersesat itu mencari pohon dan menata dedaunan untuk istirahat guna memulihkan ingatannya yang kabur agar sebuah kertas dikakinya yang terselip berbait-bait kata itu tersampaikan.