Mataku
menerawang jauh ke luar jendela dengan tatapan kosong. Sudah berhari-hari aku
berada di kamar bertembok putih dan berbau aneh ini. Dan aku seperti biasa
terbaring di tempat tidur ini ditemani oleh Al-Qur’an yang selalu setia berada
di sisiku. “Assalamualaikum,” terdengar suara dibalik pintu kamarku. “Waalaikumsalam,”
jawabku. Akhirnya pintu kamarku terbuka lebar dan sosok itu muncul. Sosok yang
selalu aku nantikan kedatangannya. Sosok yang aku selalu selipkan di dalam
doaku.
“Hai cantik,” Sapanya hangat menyentuh hatiku.
“Aku bosan disini, aku mau
pulang,” Ucapku lirih.
Suamiku menggeleng perlahan, “nanti
ya sayang kalau sudah sembuh.”
“Percuma ndak akan sembuh juga,”
gerutuku.
Sambil tersenyum dia mengatakan, “sembuh…”
Suamiku lalu membelai pipiku
lembut penuh cinta dengan senyuman termanisnya. Senyumannya masih sama ketika
pertama kali kita bertemu.
***
Ya ini aku
yang pengidap kanker. Aku, wanita di awal usia 30-an yang divonis hidupnya
tidak lama lagi. Aku, yang disaat bersamaan memiliki suami yang bodoh. Iya bodoh
karena dia yang saat mengetahui penyakitku memilih untuk tidak
meninggalkanku dan tetap bertahan di
sisiku.
