Pagi
ini begitu sejuk. Masih tercium bau petrichor menyengat bekas hujan tadi subuh.
Iya bau ini bau yang khas yang hanya aku dapati disini. Burung-burung pun
saling membalas kicauan menambah suasanya kenyamanan taman ini. Taman yang
relatif luas ini dengan rindang daun dan jejeran bangku panjangnya menjadikan tempat
untuk orang-orang melepas penat dan suntuk. Di salah satu bangku panjang disudut
pintu taman ini aku duduk memperhatikan sekitar. Banyak yang sedang
berolahraga, banyak pasangan muda yang sedang memadu kasih dan banyak juga yang
sekedar duduk sepertiku. Semuanya tidak ada yang menarik dimataku. Sampai aku
melihat wanita yang sangat aku kenal bermain bersama anak kecil yang usianya
sekitar 3 tahun.
Pikiranku
pun mengawang ke beberapa tahun silam saat aku dan wanita tersebut melewati
banyak momen bersama. Kita dipertemukan disalah satu unit kegiatan mahasiswa.
Awalnya biasa saja tidak ada yang spesial. Tapi sangat seringnya kita
dipertemukan dalam kepanitiaan acara timbul benih-benih virus yang berbentuk
seperti hati merasuki kedalam tubuhku. Perangai dan pembawaan sikap
dikesehariannya yang sederhana membuat aku tertarik ikatan jerat tali lasso
wonder womannya.
Tak
terasa bertahun-tahun kita menempuh pendidikan dikampus ini. Sampai tiba
saatnya wisuda. Kita pun wisuda diwaktu yang bersamaan. Aku bahagia, diapun
bahagia.Tapi rasa bahagiaku sirna seketika saat beberapa hari setelah wisuda aku
terima surat undangan pernikahan darinya langsung tanpa perantara. Dan dia hanya
berkata dengan senyuman termanisnya, “datang ya.” Dan langsung pergi seketika
tanpa memikirkan perasaanku. Ranting rapuh yang dipatahkan oleh para pencari
kayu bakar. Itulah gambaran hatiku ketika aku menerima surat udangan pernikahan
darinya. Undangannya begitu cantik bewarna merah muda dan bertuliskan inisial
Z&O yang bewarna emas. Sesampainya di rumah Akupun langsung menyimpan surat
undangan itu disudut ruangan yang tak terjamah. Tanpa pikir panjang hari itu
juga aku langsung pamit kepada orangtua untuk pergi merantau kesuatu daerah.
Sebelum pergi tak lupa aku menghapus semua akun media sosialku dan membuang
simcard yang aku pakai selama bertahun-tahun. Karena dengan cara itu aku membuang
semua pikiran dan kenangan tentangnya. Pada akhirnya perasaanku hanyalah
merpati terbang di langit, di kakinya terselip kertas berbait-bait kata tapi ia
telah hilang alamat.
Setelah
melanglang jauh ke dalam kenangan yang lampau. Kembali aku memperhatikan wanita
yang dulu pernah mengisi hatiku. Dia yang saat ini begitu anggun dan dewasa.
Aku tak lupa memperhatikan anaknya yang begitu sehat dan menggemaskan. Mereka
berdua bermain dengan bahagia bahkan mataharipun tersenyum manis melihat mereka.
Dalam pikiranku begitu lega karena suaminya sangat sanyang dan memperhatikannya.
Aku
tetap memperhatikannya sampai mereka berdua beranjak dari tempat semula dan
berjalan menuju keluar taman. Dan sialnya pintu keluar taman itu persis
beberapa meter dengan kursi panjang tempat aku duduk memperhatikannya. Tidak
ada kata yang aku siapkan untuk berbincang dengannya dan tidak ada pula
pendengaran yang aku siapkan untuk mendengarnya bercerita. Tidak perlu waktu
lama untuk wanita itu mengenaliku. Dengan takjub dia lalu duduk disebelahku dan
berkata,”Vava kemana aja ?.” Aku pun dengan gugup yang sangat mencoba bercerita
panjang lebar kemana aku selama 3 tahun ini ke Zainab. Iya nama wanita yang
membuat aku kabur dari rumah bernama Zainab. Sampai pada aku bertanya
kepadanya,”Ini anak kamu nab ?.” Lalu Zainab menjawab,”(sambil tersenyum) Bukan,
aku aja belum menikah. Ini keponakan aku, anaknya saudara kembar aku si Zaini.”
Mendengar jawaban itu akupun terasa lemas sekali antara senang dan kalut. Aku
bertanya lagi,” Jadi surat undangan pernikahan yang 3 tahun lalu yang kamu
kasih ke aku itu undangannya Zaini ?.” Zainab menjawab dengan heran,”Iyalah
emang kamu ga baca isinya apa ?.” Setelah beberapa percakapan lagi akhirnya
Zainab pulang dengan keponakannya yang lucu. Lalu keponakannya memberikan
tersenyum dan kiss byean termanisnya seakan dia mengerti suasana hatiku. Dan
akhirnya mereka berlalu meninggalkanku
ditaman ini.
Tidak
lama setelah Zainab pulang, aku pun langsung bergegas ke rumah dan mencari
surat undangan pernikahan dipojok ruangan yang tak terjamah. Ternyata surat
undangan pernikahan itu masih ada. Masih terlihat bagus walau tertutup debu
yang membuatnya terlihat usang. Aku membukanya dengan hati bergemuruh layaknya
mendung disenja hari. Setelah dibuka ternyata benar kata Zainab, yang menikah
itu Zaini dan Ova sesuai dengan inisial yang terpampang disampul surat undangan
pernikahannya.
Seperti
orang bodoh aku disudut ruangan yang tak terjamah ini. Senyum yang aku
sunggingkan tak ubahnya seperti pelangi yang bermacam-macam warna itu. Harapan
pun kembali mengembang seperti layar kapal yang berguna untuk mengarungi
luasnya samudera. Dan pada akhirnya merpati yang tersesat itu mencari pohon dan
menata dedaunan untuk istirahat guna memulihkan ingatannya yang kabur agar
sebuah kertas dikakinya yang terselip berbait-bait kata itu tersampaikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar