Minggu, 15 November 2015

Wajah Dorothy


Air mataku masih menggenang di pelupuk mata, perlahan mengalir pelan, turun dan menganak sungai di pipiku. Mata sembabku menatap Dorothy calon istriku yang tidak berdaya di ruang ICU. Ya Allah... dadaku seakan ingin meledak karena isak tangis yang sekuat mungkin aku tahan. Aku tidak boleh lemah di depannya.
Sebelumnya, hari begitu  riang dan matahari menunjukan senyum terbaiknya untuk aku dan Dorothy. Iya.. dua hari lagi kita akan menikah. Dan hari ini aku berjanji untuk membeli perabotan rumah tangga untuk rumah yang kita tempati nantinya. Aku dan Dorothy pun pergi ke sebuah supermarket khusus perabotan rumah tangga. Kita tidak berdua saja karena ditemani oleh Hafidz yang merupakan sahabat kita. Sesampainya kami ditempat tujuan aku bingung seketika karena tidak tahu apa yang harus kita beli. Untungnya Hafidz sangat berpengalaman dalam hal jual beli perabotan rumah tangga karena dia berbisnis properti. Akhirnya di dalam Supermarket aku dan Dorothy memberi arahan ke Hafidz untuk memilah dan memilih perabotan rumah tangga yang sesuai dengan rumah kita. Di dalam supermarket sorotan mata Dorothy terlihat sangat bahagia melihat-lihat berbagai macam perabotan rumah tangga yang eye cachy. Aku pun sama bahagia dengannya bedanya kebahagiaanku itu karena tak sampai 70 jam kedepan aku akan menikahinya. Setelah puas berbelanja akhirnya kami pulang dengan hati yang berbunga-bunga.
Setelah mengantar semuanya pulang akhirnya aku pulang ke rumah dengan hari bahagia Dan. tubuhku lelah sekali sehingga aku langsung tertidur di pembaringanku. Tidak lama tertidur terdengan bunyi suara telepon dari telepon genggamku yang aku letakkan di meja samping pembaringanku. Malas sekali mengangkatnya tapi aku pun tetap mengangkat telepon genggamku. Ternyata yang menelepon adalah ibunya dorothy. Dan beliau menyuruhku keruang ICU rumah sakit tertentu karena Dorothy terkena musibah. Perasaanku bagai disambar petir yang menghantarkan ribuan volt listrik ke dadaku.  rasa ngantuk yang berubah menjadi kecemasan yang tiada tara. Aku langsung bergegas memacu kendaraanku ke rumah sakit tujuan.
Angin semilir menerpa tubuhku, menyusup ke dalam kalbu dan membawa terbang anganku. Guratan duka yang menoreh panjang sisi-sisi hatiku seakan terkuak. Menyayat dan perih. Wajah Dorothy yang terbujur luka selalu terbayang-bayang dalam setiap hentakan napasku.
“Dorothy harus dibawa ke Jakarta, Pak! Dokter menganjurkan seperti itu, Lapor ibunya dorothy ke suaminya. “Dorothy kenapa?” Ada kekuatan yang membuat dadaku berdetak lebih keras dari biasanya mendengar ibunya Dorothy melaporkan hasil pemeriksaannya. Aku yakin ada suatu masalah yang lebih besar dari perkiraanku sebelumnya.
Ibunya Dorothy terdiam dan terlihat bingung dengan jawaban yang harus diutarakannya. Keterpurukannya membuat aku menarik napas yang panjang. Sedemikian panjangnya untuk mempersiapkan diri dari kemungkinan yang paling buruk. Secara lirih karena menahan kepedihan ibunya Dorothy bekata kepadaku, “Tadi sepulang dari berbelanja perabotan rumah tangga, ada mantan kekasihnya  dorothy yang bernama Barton menemuinya. Tiba tiba barton sangat marah kepada dorothy karena mendengar dia mau menikah. Secara tidak diduga Barton menyiram air keras ke wajah Dorothy. Dan itu membuat wajah dorothy seperti yang kamu lihat barusan penuh dengan balutan perban.” Seketika aku mengepal tanganku karena menahan emosi. Barton yang dahulu sering menyakiti Dorothy, Barton yang dahulu sering membuat Dorothy menangis, Setelah berpisah pun tetap menyakiti Dorothy bahkan diluar batas nalar manusia. Dan ibunya Dorothy berkata lagi,"Setelah melakukan tindakan tersebut, Barton langsung diciduk polisi di kediamannya  jadi jangan pikirin yang lain fokus aja pada pekerjaanmu dan doa yang terbaik untuk kesembuhan Dorothy."
Ya Allah ... Aku hanya bisa mengiringi kepergian Dorothy ke Jakarta dengan doa untuk menjalani perawatan yang lebih baik disana. Hanya helaan napas berat yang mengikutinya sampai di belokan jalan. Hanya tangisan tanpa suara yang diterbangkan angin dengan segala doa-doa yang akan selalu menemaninya.
Ku titipkan Dorothy kepada kedua orang tuanya. Biarlah aku tetap disini dengan duka dan tangisku. Jarak tidak membuat aku merasa jauh dari sisinya.  Di dalam dadaku, tetap ada cinta untuknya. Ya Rabb ... Waktu begitu lambat berganti. Detik jam seolah telah rusak. Siang terasa begitu panjang dan malam seolah enggan menyambut pagi. Aku merasa tak bergerak dalam lambatnya waktu bergulir.
Dua bulan Dorothy dirawat di Jakarta, hanya sekali aku menengoknya karena kesibukanku bekerja. Senyumku terpendar melihat wajah kuyu dan sayu dibalik perban yang membalut seluruh muka kecuali mata dan mulut. Biarlah Dorothy hanya melihat senyum dari wajahku. Mungkin jika kejadian itu tidak terjadi barangkali saat ini kita dapat tersenyum bersama menikmati sore. Ingin kucium keningnya yang dingin tapi tidak bisa karena kita belum halal. Akhirnya hanya cerita-cerita indah dan lucu aku torehkan kepadanya supaya tidak larut dalam duka. Setidaknya untuk saat ini.
Hari tetap bergulir dengan lambat. Tanpa terasa dua bulan pun berlalu dengan segala harapan. Kabar Dorothy mulai membaik terucap dari orang tuanya dan teman-teman Dorothy yang secara langsung menjenguknya. Mereka menatapku dengan penuh rasa kasihan.
Ketika akhirnya Dorothy pulang, Dorothy yang sama dengan wajah yang berbeda. Dorothy yang dulu ceria kini hanya menunduk malu di hadapku. Dorothy yang dulu bawel kini diam seribu bahasa.  kusambut dia dengan salam termanis. Aku mencoba  menahan bendungan tangisku agar tidak menetes di pipi. Tiba-tiba dengan berteriak dan menangis Dorothy berkata kepadaku,” Jenal pulaaaaaaang ajaaaa aku ga mau liat jenal lagiiii kesini . Jenal ga bakalan suka aku lagi soalnya muka aku udah mirip monster sekaraaaang. Jenal pergi jauuuh jauuuh sanaaa.” Orang tua Dorothy memberi  isyarat agar aku pulang. Dan aku pun pulang dengan rasa kesedihan yang mendalam.
.............................
Sudah setahun berlalu semenjak kejadian itu. Akhirnya Dorothy menikah tapi  tidak denganku karena setelah pengusiran itu aku tidak memperjuangkannya. Karena aku kaget melihat perubahan drastis wajahnya, aku sangat kaget sikapnya berubah ketika itu. Aku lebih memilih menyibukan diri dengan pekerjaanku. Aku lebih memilih Dorothy terlebih dahulu  yang menghampiriku. Aku lebih memilih diam. Karena aku hanya seorang pengecut yang tidak berani menghadapi realita.
Aku pun menghadiri pernikahannya. Dorothy dengan sepatu yang cantik. Dorothy dengan dengan gaun putih yang cantik. Dorothy dengan jilbab yang cantik. Dan Dorothy dengan wajah yang sangat cantik. Ternyata sebulan pasca Dorothy pulang dari rumah sakit, dia langsung berangkat ke Seoul untuk menjalani operasi rekonstruksi wajah.
Aku pun mengucapkan selamat kepada Hafidz yang kini menjadi suaminya Dorothy. Lelaki yang terkenal akan ke shalihannya. Semoga kalian menjadi pasangan yang sakinah, mawaddah, dan rahmah . Barakallahu laka wa baraka a’laika wa jama’ bainakum fi khair.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar