Air
mataku masih menggenang di pelupuk mata, perlahan mengalir pelan, turun dan
menganak sungai di pipiku. Mata sembabku menatap Dorothy calon istriku yang
tidak berdaya di ruang ICU. Ya Allah... dadaku seakan ingin meledak karena isak
tangis yang sekuat mungkin aku tahan. Aku tidak boleh lemah di depannya.
Sebelumnya,
hari begitu riang dan matahari
menunjukan senyum terbaiknya untuk aku dan Dorothy. Iya.. dua hari lagi kita
akan menikah. Dan hari ini aku berjanji untuk membeli perabotan rumah tangga untuk
rumah yang kita tempati nantinya. Aku dan Dorothy pun pergi ke sebuah supermarket
khusus perabotan rumah tangga. Kita tidak berdua saja karena ditemani oleh Hafidz
yang merupakan sahabat kita. Sesampainya kami ditempat tujuan aku bingung
seketika karena tidak tahu apa yang harus kita beli. Untungnya Hafidz sangat
berpengalaman dalam hal jual beli perabotan rumah tangga karena dia berbisnis
properti. Akhirnya di dalam Supermarket aku dan Dorothy memberi arahan ke
Hafidz untuk memilah dan memilih perabotan rumah tangga yang sesuai dengan
rumah kita. Di dalam supermarket sorotan mata Dorothy terlihat sangat bahagia
melihat-lihat berbagai macam perabotan rumah tangga yang eye cachy. Aku pun sama bahagia dengannya bedanya kebahagiaanku itu
karena tak sampai 70 jam kedepan aku akan menikahinya. Setelah puas berbelanja
akhirnya kami pulang dengan hati yang berbunga-bunga.
Setelah
mengantar semuanya pulang akhirnya aku pulang ke rumah dengan hari bahagia Dan. tubuhku lelah sekali sehingga aku langsung tertidur di pembaringanku. Tidak lama
tertidur terdengan bunyi suara telepon dari telepon genggamku yang aku letakkan
di meja samping pembaringanku. Malas sekali mengangkatnya tapi aku pun tetap
mengangkat telepon genggamku. Ternyata yang menelepon adalah ibunya dorothy. Dan
beliau menyuruhku keruang ICU rumah sakit tertentu karena Dorothy terkena
musibah. Perasaanku bagai disambar petir yang menghantarkan ribuan volt listrik
ke dadaku. rasa ngantuk yang berubah
menjadi kecemasan yang tiada tara. Aku langsung bergegas memacu kendaraanku ke
rumah sakit tujuan.
Angin
semilir menerpa tubuhku, menyusup ke dalam kalbu dan membawa terbang anganku.
Guratan duka yang menoreh panjang sisi-sisi hatiku seakan terkuak. Menyayat dan
perih. Wajah Dorothy yang terbujur luka selalu terbayang-bayang dalam setiap
hentakan napasku.
“Dorothy
harus dibawa ke Jakarta, Pak! Dokter menganjurkan seperti itu, Lapor ibunya
dorothy ke suaminya. “Dorothy kenapa?” Ada kekuatan yang membuat dadaku
berdetak lebih keras dari biasanya mendengar ibunya Dorothy melaporkan hasil
pemeriksaannya. Aku yakin ada suatu masalah yang lebih besar dari perkiraanku
sebelumnya.
Ibunya
Dorothy terdiam dan terlihat bingung dengan jawaban yang harus diutarakannya.
Keterpurukannya membuat aku menarik napas yang panjang. Sedemikian panjangnya untuk
mempersiapkan diri dari kemungkinan yang paling buruk. Secara lirih karena
menahan kepedihan ibunya Dorothy bekata kepadaku, “Tadi sepulang dari
berbelanja perabotan rumah tangga, ada mantan kekasihnya dorothy yang bernama Barton menemuinya. Tiba tiba
barton sangat marah kepada dorothy karena mendengar dia mau menikah. Secara
tidak diduga Barton menyiram air keras ke wajah Dorothy. Dan itu membuat wajah
dorothy seperti yang kamu lihat barusan penuh dengan balutan perban.” Seketika
aku mengepal tanganku karena menahan emosi. Barton yang dahulu sering menyakiti
Dorothy, Barton yang dahulu sering membuat Dorothy menangis, Setelah berpisah
pun tetap menyakiti Dorothy bahkan diluar batas nalar manusia. Dan ibunya
Dorothy berkata lagi,"Setelah melakukan tindakan tersebut, Barton langsung
diciduk polisi di kediamannya jadi jangan
pikirin yang lain fokus aja pada pekerjaanmu dan doa yang terbaik untuk
kesembuhan Dorothy."
Ya
Allah ... Aku hanya bisa mengiringi kepergian Dorothy ke Jakarta dengan doa
untuk menjalani perawatan yang lebih baik disana. Hanya helaan napas berat yang
mengikutinya sampai di belokan jalan. Hanya tangisan tanpa suara yang
diterbangkan angin dengan segala doa-doa yang akan selalu menemaninya.
Ku
titipkan Dorothy kepada kedua orang tuanya. Biarlah aku tetap disini dengan
duka dan tangisku. Jarak tidak membuat aku merasa jauh dari sisinya. Di dalam dadaku, tetap ada cinta untuknya. Ya
Rabb ... Waktu begitu lambat berganti. Detik jam seolah telah rusak. Siang
terasa begitu panjang dan malam seolah enggan menyambut pagi. Aku merasa tak
bergerak dalam lambatnya waktu bergulir.
Dua
bulan Dorothy dirawat di Jakarta, hanya sekali aku menengoknya karena
kesibukanku bekerja. Senyumku terpendar melihat wajah kuyu dan sayu dibalik
perban yang membalut seluruh muka kecuali mata dan mulut. Biarlah Dorothy hanya
melihat senyum dari wajahku. Mungkin jika kejadian itu tidak terjadi barangkali
saat ini kita dapat tersenyum bersama menikmati sore. Ingin kucium keningnya
yang dingin tapi tidak bisa karena kita belum halal. Akhirnya hanya
cerita-cerita indah dan lucu aku torehkan kepadanya supaya tidak larut dalam
duka. Setidaknya untuk saat ini.
Hari
tetap bergulir dengan lambat. Tanpa terasa dua bulan pun berlalu dengan segala
harapan. Kabar Dorothy mulai membaik terucap dari orang tuanya dan teman-teman
Dorothy yang secara langsung menjenguknya. Mereka menatapku dengan penuh rasa
kasihan.
Ketika
akhirnya Dorothy pulang, Dorothy yang sama dengan wajah yang berbeda. Dorothy yang
dulu ceria kini hanya menunduk malu di hadapku. Dorothy yang dulu bawel kini
diam seribu bahasa. kusambut dia dengan
salam termanis. Aku mencoba menahan
bendungan tangisku agar tidak menetes di pipi. Tiba-tiba dengan berteriak dan
menangis Dorothy berkata kepadaku,” Jenal pulaaaaaaang ajaaaa aku ga mau liat
jenal lagiiii kesini . Jenal ga bakalan suka aku lagi soalnya muka aku udah
mirip monster sekaraaaang. Jenal pergi jauuuh jauuuh sanaaa.” Orang tua Dorothy
memberi isyarat agar aku pulang. Dan aku
pun pulang dengan rasa kesedihan yang mendalam.
.............................
Sudah
setahun berlalu semenjak kejadian itu. Akhirnya Dorothy menikah tapi tidak denganku karena setelah pengusiran itu
aku tidak memperjuangkannya. Karena aku kaget melihat perubahan drastis wajahnya,
aku sangat kaget sikapnya berubah ketika itu. Aku lebih memilih menyibukan diri
dengan pekerjaanku. Aku lebih memilih Dorothy terlebih dahulu yang menghampiriku. Aku lebih memilih diam. Karena
aku hanya seorang pengecut yang tidak berani menghadapi realita.
Aku
pun menghadiri pernikahannya. Dorothy dengan sepatu yang cantik. Dorothy dengan
dengan gaun putih yang cantik. Dorothy dengan jilbab yang cantik. Dan Dorothy
dengan wajah yang sangat cantik. Ternyata sebulan pasca Dorothy pulang dari
rumah sakit, dia langsung berangkat ke Seoul untuk menjalani operasi
rekonstruksi wajah.
Aku pun mengucapkan
selamat kepada Hafidz yang kini menjadi suaminya Dorothy. Lelaki yang terkenal
akan ke shalihannya. Semoga kalian menjadi pasangan yang sakinah, mawaddah, dan
rahmah . Barakallahu laka wa baraka a’laika wa jama’ bainakum fi khair.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar