Minggu, 15 November 2015

Terangi Jalanmu

Tepat sebelum matahari terbit
Ketika cahaya masih pergi
Terangi, terangi jalanmu

Dan mungkin kau tak tau, kemana harus pergi
Terangi, terangi jalanmu

Jalan terbuka tapi ini masih gelap
Membuat api dari percikannya
Dan terangi, terangi jalanmu

Ikuti petunjuk perasaan hatimu
Jangan rahasiakan itu, lalu kau mulai
Mencari, mencari jalanmu

Takkan ada yang dapat hentikan, apa yang telah terjadi
Kau pasti percaya saat aku berkata
Air mata kita akan mengering lebih cepat dalam mentari
Dimulai hari ini
Terangi, terangi, terangi
Terangi jalanmu

Ada sebuah langit terbuka
Dan sebuah alasan mengapa
Kau menerangi, terangi jalanmu
Ada banyak hal untuk dipelajari
Dan kini giliranmu
Untuk menerangi, menerangi jalanmu

Ada perasaan terpendam
Kau dapat menjadikannya pembimbing
Untuk mencari, mencari jalanmu

Dan tak ada waktu bagi kita untuk disia-siakan
Harus mengumpulkan sedikit keberanian
Untuk terbang, terbang kemanapun

Tidak perlu berjalan
Sekarang kau dapat lari
Tidak ada yang menghalangimu
Air matamu akan mengering lebih cepat dalam mentari
Mulai hari ini
Terangi, terangi, terangi,
Terangi jalanmu

Fajar sudah muncul
Kegelapan terasa kabur
Kita menemukan jalan menuju cahaya
Ini adalah pemandangan yang sangat indah
Kapanpun, dimanapun
Berputarlah dan aku akan ada di sana
Untuk menerangi, menerangi jalanmu

Seperti bintang bersinar terang
Menerangi kegelapan malam
Aku akan menerangi, menerangi jalanmu

Sekarang aku dapat melihat
Kau adalah seseorang
Yang dikirim ke sini untuk menunjukanku sebuah jalan
Air matamu akan mengering lebih cepat dalam mentari
Di mulai hari ini
Terangi, terangi, terangi

Kita sedang menuju itu
Terangi, terangi, terangi

Itulah yang kita katakan
Terangi, terangi, terangi
Terangi jalanmu

Ada sebuah alasan mengapa
Kau bercahaya, terangi jalanmu

Air mata kita akan mengering lebih cepat dalam mentari
Sinari jalanmu

Wajah Dorothy


Air mataku masih menggenang di pelupuk mata, perlahan mengalir pelan, turun dan menganak sungai di pipiku. Mata sembabku menatap Dorothy calon istriku yang tidak berdaya di ruang ICU. Ya Allah... dadaku seakan ingin meledak karena isak tangis yang sekuat mungkin aku tahan. Aku tidak boleh lemah di depannya.
Sebelumnya, hari begitu  riang dan matahari menunjukan senyum terbaiknya untuk aku dan Dorothy. Iya.. dua hari lagi kita akan menikah. Dan hari ini aku berjanji untuk membeli perabotan rumah tangga untuk rumah yang kita tempati nantinya. Aku dan Dorothy pun pergi ke sebuah supermarket khusus perabotan rumah tangga. Kita tidak berdua saja karena ditemani oleh Hafidz yang merupakan sahabat kita. Sesampainya kami ditempat tujuan aku bingung seketika karena tidak tahu apa yang harus kita beli. Untungnya Hafidz sangat berpengalaman dalam hal jual beli perabotan rumah tangga karena dia berbisnis properti. Akhirnya di dalam Supermarket aku dan Dorothy memberi arahan ke Hafidz untuk memilah dan memilih perabotan rumah tangga yang sesuai dengan rumah kita. Di dalam supermarket sorotan mata Dorothy terlihat sangat bahagia melihat-lihat berbagai macam perabotan rumah tangga yang eye cachy. Aku pun sama bahagia dengannya bedanya kebahagiaanku itu karena tak sampai 70 jam kedepan aku akan menikahinya. Setelah puas berbelanja akhirnya kami pulang dengan hati yang berbunga-bunga.
Setelah mengantar semuanya pulang akhirnya aku pulang ke rumah dengan hari bahagia Dan. tubuhku lelah sekali sehingga aku langsung tertidur di pembaringanku. Tidak lama tertidur terdengan bunyi suara telepon dari telepon genggamku yang aku letakkan di meja samping pembaringanku. Malas sekali mengangkatnya tapi aku pun tetap mengangkat telepon genggamku. Ternyata yang menelepon adalah ibunya dorothy. Dan beliau menyuruhku keruang ICU rumah sakit tertentu karena Dorothy terkena musibah. Perasaanku bagai disambar petir yang menghantarkan ribuan volt listrik ke dadaku.  rasa ngantuk yang berubah menjadi kecemasan yang tiada tara. Aku langsung bergegas memacu kendaraanku ke rumah sakit tujuan.
Angin semilir menerpa tubuhku, menyusup ke dalam kalbu dan membawa terbang anganku. Guratan duka yang menoreh panjang sisi-sisi hatiku seakan terkuak. Menyayat dan perih. Wajah Dorothy yang terbujur luka selalu terbayang-bayang dalam setiap hentakan napasku.
“Dorothy harus dibawa ke Jakarta, Pak! Dokter menganjurkan seperti itu, Lapor ibunya dorothy ke suaminya. “Dorothy kenapa?” Ada kekuatan yang membuat dadaku berdetak lebih keras dari biasanya mendengar ibunya Dorothy melaporkan hasil pemeriksaannya. Aku yakin ada suatu masalah yang lebih besar dari perkiraanku sebelumnya.
Ibunya Dorothy terdiam dan terlihat bingung dengan jawaban yang harus diutarakannya. Keterpurukannya membuat aku menarik napas yang panjang. Sedemikian panjangnya untuk mempersiapkan diri dari kemungkinan yang paling buruk. Secara lirih karena menahan kepedihan ibunya Dorothy bekata kepadaku, “Tadi sepulang dari berbelanja perabotan rumah tangga, ada mantan kekasihnya  dorothy yang bernama Barton menemuinya. Tiba tiba barton sangat marah kepada dorothy karena mendengar dia mau menikah. Secara tidak diduga Barton menyiram air keras ke wajah Dorothy. Dan itu membuat wajah dorothy seperti yang kamu lihat barusan penuh dengan balutan perban.” Seketika aku mengepal tanganku karena menahan emosi. Barton yang dahulu sering menyakiti Dorothy, Barton yang dahulu sering membuat Dorothy menangis, Setelah berpisah pun tetap menyakiti Dorothy bahkan diluar batas nalar manusia. Dan ibunya Dorothy berkata lagi,"Setelah melakukan tindakan tersebut, Barton langsung diciduk polisi di kediamannya  jadi jangan pikirin yang lain fokus aja pada pekerjaanmu dan doa yang terbaik untuk kesembuhan Dorothy."
Ya Allah ... Aku hanya bisa mengiringi kepergian Dorothy ke Jakarta dengan doa untuk menjalani perawatan yang lebih baik disana. Hanya helaan napas berat yang mengikutinya sampai di belokan jalan. Hanya tangisan tanpa suara yang diterbangkan angin dengan segala doa-doa yang akan selalu menemaninya.
Ku titipkan Dorothy kepada kedua orang tuanya. Biarlah aku tetap disini dengan duka dan tangisku. Jarak tidak membuat aku merasa jauh dari sisinya.  Di dalam dadaku, tetap ada cinta untuknya. Ya Rabb ... Waktu begitu lambat berganti. Detik jam seolah telah rusak. Siang terasa begitu panjang dan malam seolah enggan menyambut pagi. Aku merasa tak bergerak dalam lambatnya waktu bergulir.
Dua bulan Dorothy dirawat di Jakarta, hanya sekali aku menengoknya karena kesibukanku bekerja. Senyumku terpendar melihat wajah kuyu dan sayu dibalik perban yang membalut seluruh muka kecuali mata dan mulut. Biarlah Dorothy hanya melihat senyum dari wajahku. Mungkin jika kejadian itu tidak terjadi barangkali saat ini kita dapat tersenyum bersama menikmati sore. Ingin kucium keningnya yang dingin tapi tidak bisa karena kita belum halal. Akhirnya hanya cerita-cerita indah dan lucu aku torehkan kepadanya supaya tidak larut dalam duka. Setidaknya untuk saat ini.
Hari tetap bergulir dengan lambat. Tanpa terasa dua bulan pun berlalu dengan segala harapan. Kabar Dorothy mulai membaik terucap dari orang tuanya dan teman-teman Dorothy yang secara langsung menjenguknya. Mereka menatapku dengan penuh rasa kasihan.
Ketika akhirnya Dorothy pulang, Dorothy yang sama dengan wajah yang berbeda. Dorothy yang dulu ceria kini hanya menunduk malu di hadapku. Dorothy yang dulu bawel kini diam seribu bahasa.  kusambut dia dengan salam termanis. Aku mencoba  menahan bendungan tangisku agar tidak menetes di pipi. Tiba-tiba dengan berteriak dan menangis Dorothy berkata kepadaku,” Jenal pulaaaaaaang ajaaaa aku ga mau liat jenal lagiiii kesini . Jenal ga bakalan suka aku lagi soalnya muka aku udah mirip monster sekaraaaang. Jenal pergi jauuuh jauuuh sanaaa.” Orang tua Dorothy memberi  isyarat agar aku pulang. Dan aku pun pulang dengan rasa kesedihan yang mendalam.
.............................
Sudah setahun berlalu semenjak kejadian itu. Akhirnya Dorothy menikah tapi  tidak denganku karena setelah pengusiran itu aku tidak memperjuangkannya. Karena aku kaget melihat perubahan drastis wajahnya, aku sangat kaget sikapnya berubah ketika itu. Aku lebih memilih menyibukan diri dengan pekerjaanku. Aku lebih memilih Dorothy terlebih dahulu  yang menghampiriku. Aku lebih memilih diam. Karena aku hanya seorang pengecut yang tidak berani menghadapi realita.
Aku pun menghadiri pernikahannya. Dorothy dengan sepatu yang cantik. Dorothy dengan dengan gaun putih yang cantik. Dorothy dengan jilbab yang cantik. Dan Dorothy dengan wajah yang sangat cantik. Ternyata sebulan pasca Dorothy pulang dari rumah sakit, dia langsung berangkat ke Seoul untuk menjalani operasi rekonstruksi wajah.
Aku pun mengucapkan selamat kepada Hafidz yang kini menjadi suaminya Dorothy. Lelaki yang terkenal akan ke shalihannya. Semoga kalian menjadi pasangan yang sakinah, mawaddah, dan rahmah . Barakallahu laka wa baraka a’laika wa jama’ bainakum fi khair.




Kamis, 12 November 2015

Aku Cemburu

Aku cemburu
Melihatmu yang selalu
Sholat jamaah di masjid walau waktumu kadang sempit
Membaca Al-Qur’an disela-sela waktu luang
Tetap belajar dikala libur kerjamu
Berpenampilan syar’i walaupun tak sedikit yang mencemooh

Aku cemburu
Melihat sikapmu yang
Selalu menebar salam, senyum, dan sapa pada setiap orang
Tetap semangat menjalani hidup meski cobaan kadang menerpa
Tawazzun dalam perspektifmu memandang dunia
Konsisten mengeluarkan kata kebaikan dari mulutmu

Aku cemburu
Keistiqomahanmu akan
Menjaga dan menambah hafalan qur’an dan hadist
Sedekah walaupun kamu kadang susah
Kesetiaan kamu kepada sholat qiyamul lail dan dhuha
Dan ibadah sunah lainnya walau kau tahu ditinggalkan tak dosa

Aku cemburu namun bahagia melihatmu
Aku cemburu melihat contoh sempurna di depan mataku
Aku cemburu karena belum bisa sepertimu
Ya Rabb, semoga rasa cemburu ini semakin mendekatkanku padaMu

Senin, 09 November 2015

Teman Cacat

Temanku tidak sesempurna apa yang aku harapkan. Kadang dalam pertemanan aku menuntut temanku untuk selalu menuruti permintaanku. Selalu bisa menjadi pendengar yang baik untukku ketika aku butuhkan. Selalu menuruti permintaanku ketika aku minta diantar ke suatu tempat. Selalu ada waktu untuk menemani aku menggila. Dan hal lainnya.

Aku sering kecewa karena temanku tidak sesuai dengan harapanku. Kadang mereka sangat sibuk dengan urusannya. Kadang mereka menyepelekan aku. Kadang mereka berjalan dengan teman selain aku. Kadang melakukan hal lainnya yang membuat aku merasa ditinggal. Tapi pikiran yang seperti itu hanya sesaat.

Karena aku tau masing-masing teman kita mempunyai urusan. Ada yang mengurus anggota keluarganya yang sakit. Ada yang sedang menyelesaikan tugas kuliahnya. Ada yang sedang lebih mengutamakan teman yang lain karena dirasa dia yang lebih membutuhkan kehadirannya. Ada yang sedang ingin sendiri. Dan ada sesuatu kegiatan lainnya yang membuat dia menjauh dariku.

Tapi teman tetaplah teman. Bagaimanapun kondisinya. Sejauh apapun jaraknya. Dan Keterbatasan waktu bertemu denganku. Oleh karena itu, aku tidak menuntut temanku untuk sempurna. Yang aku lakukan sekarang adalah menyempurnakan diriku untuk berteman. Karena yang aku ketahui itu teman harus saling melengkapi dan memberi nasihat. Itulah fungsi teman yang sejati.

Jumat, 06 November 2015

Berjumpa Sekali Lagi

Aku berjumpa Marimar sekali lagi
Marimar di zaman yang berbeda
Marimar dengan modernitas disekelilingnya
Namun tetap dikelilingi orang-orang baik disekitarnya

Caramu menceriakan suasana
Tutur katamu saat berbicara
Cintamu terhadap anak-anak
Pakaian yang kamu kenakan
Keahlianmu dalam memasak

Rambut panjangmu yang terurai
Sorot mata cokelat nan indah
Senyum simpulmu
Timbre suaramu
Jarimu yang lentik

Itulah Marimar
Kamu adalah bagian dari Marimar
Marimar berada di dalam dirimu
Karena Marimar adalah ibumu

Dan ketika memandangmu, aku melihat begitu banyak hal
Asa
Kebahagiaan
Juga harapan

Iya aku berjumpa Marimar sekali lagi

Rabu, 04 November 2015

Hijau

Tidak mudah menjadi hijau
Harus menghabiskan setiap hari seperti warna daun
Ketika aku pikir lebih baik menjadi merah, kuning, atau emas
Atau sesuatu yang jauh lebih berwarna dari itu

Tidak mudah menjadi hijau
Tampak aku berbaur dengan begitu banyak hal biasa lainnya
Dan orang-orang cenderung memperlakukan aku secara biasa
Karena aku tidak berkilau mencolok di air
Atau secemerlang bintang di langit

Tapi hijau adalah warna musim semi
Dan hijau dapat menjadi sejuk dan ramah
Dan hijau bisa besar seperti gunung, atau penting seperti sungai, atau tinggi seperti pohon
Hijau menjadikan semuanya tampak hidup

Ini bisa membuat kamu bertanya-tanya mengapa, tapi mengapa heran?
Rasanya menakjubkan karena aku hijau dan itu akan baik-baik saja
Itu indah!
Dan aku pikir itu apa yang aku inginkan

Senin, 19 Oktober 2015

Sajak Merpati



Pagi ini begitu sejuk. Masih tercium bau petrichor menyengat bekas hujan tadi subuh. Iya bau ini bau yang khas yang hanya aku dapati disini. Burung-burung pun saling membalas kicauan menambah suasanya kenyamanan taman ini. Taman yang relatif luas ini dengan rindang daun dan jejeran bangku panjangnya menjadikan tempat untuk orang-orang melepas penat dan suntuk. Di salah satu bangku panjang disudut pintu taman ini aku duduk memperhatikan sekitar. Banyak yang sedang berolahraga, banyak pasangan muda yang sedang memadu kasih dan banyak juga yang sekedar duduk sepertiku. Semuanya tidak ada yang menarik dimataku. Sampai aku melihat wanita yang sangat aku kenal bermain bersama anak kecil yang usianya sekitar 3 tahun.

Pikiranku pun mengawang ke beberapa tahun silam saat aku dan wanita tersebut melewati banyak momen bersama. Kita dipertemukan disalah satu unit kegiatan mahasiswa. Awalnya biasa saja tidak ada yang spesial. Tapi sangat seringnya kita dipertemukan dalam kepanitiaan acara timbul benih-benih virus yang berbentuk seperti hati merasuki kedalam tubuhku. Perangai dan pembawaan sikap dikesehariannya yang sederhana membuat aku tertarik ikatan jerat tali lasso wonder womannya.

Tak terasa bertahun-tahun kita menempuh pendidikan dikampus ini. Sampai tiba saatnya wisuda. Kita pun wisuda diwaktu yang bersamaan. Aku bahagia, diapun bahagia.Tapi rasa bahagiaku sirna seketika saat beberapa hari setelah wisuda aku terima surat undangan pernikahan darinya langsung tanpa perantara. Dan dia hanya berkata dengan senyuman termanisnya, “datang ya.” Dan langsung pergi seketika tanpa memikirkan perasaanku. Ranting rapuh yang dipatahkan oleh para pencari kayu bakar. Itulah gambaran hatiku ketika aku menerima surat udangan pernikahan darinya. Undangannya begitu cantik bewarna merah muda dan bertuliskan inisial Z&O yang bewarna emas. Sesampainya di rumah Akupun langsung menyimpan surat undangan itu disudut ruangan yang tak terjamah. Tanpa pikir panjang hari itu juga aku langsung pamit kepada orangtua untuk pergi merantau kesuatu daerah. Sebelum pergi tak lupa aku menghapus semua akun media sosialku dan membuang simcard yang aku pakai selama bertahun-tahun. Karena dengan cara itu aku membuang semua pikiran dan kenangan tentangnya. Pada akhirnya perasaanku hanyalah merpati terbang di langit, di kakinya terselip kertas berbait-bait kata tapi ia telah hilang alamat.

Setelah melanglang jauh ke dalam kenangan yang lampau. Kembali aku memperhatikan wanita yang dulu pernah mengisi hatiku. Dia yang saat ini begitu anggun dan dewasa. Aku tak lupa memperhatikan anaknya yang begitu sehat dan menggemaskan. Mereka berdua bermain dengan bahagia bahkan mataharipun tersenyum manis melihat mereka. Dalam pikiranku begitu lega karena suaminya sangat sanyang dan memperhatikannya.

Aku tetap memperhatikannya sampai mereka berdua beranjak dari tempat semula dan berjalan menuju keluar taman. Dan sialnya pintu keluar taman itu persis beberapa meter dengan kursi panjang tempat aku duduk memperhatikannya. Tidak ada kata yang aku siapkan untuk berbincang dengannya dan tidak ada pula pendengaran yang aku siapkan untuk mendengarnya bercerita. Tidak perlu waktu lama untuk wanita itu mengenaliku. Dengan takjub dia lalu duduk disebelahku dan berkata,”Vava kemana aja ?.” Aku pun dengan gugup yang sangat mencoba bercerita panjang lebar kemana aku selama 3 tahun ini ke Zainab. Iya nama wanita yang membuat aku kabur dari rumah bernama Zainab. Sampai pada aku bertanya kepadanya,”Ini anak kamu nab ?.” Lalu Zainab menjawab,”(sambil tersenyum) Bukan, aku aja belum menikah. Ini keponakan aku, anaknya saudara kembar aku si Zaini.” Mendengar jawaban itu akupun terasa lemas sekali antara senang dan kalut. Aku bertanya lagi,” Jadi surat undangan pernikahan yang 3 tahun lalu yang kamu kasih ke aku itu undangannya Zaini ?.” Zainab menjawab dengan heran,”Iyalah emang kamu ga baca isinya apa ?.” Setelah beberapa percakapan lagi akhirnya Zainab pulang dengan keponakannya yang lucu. Lalu keponakannya memberikan tersenyum dan kiss byean termanisnya seakan dia mengerti suasana hatiku. Dan akhirnya mereka  berlalu meninggalkanku ditaman ini.

Tidak lama setelah Zainab pulang, aku pun langsung bergegas ke rumah dan mencari surat undangan pernikahan dipojok ruangan yang tak terjamah. Ternyata surat undangan pernikahan itu masih ada. Masih terlihat bagus walau tertutup debu yang membuatnya terlihat usang. Aku membukanya dengan hati bergemuruh layaknya mendung disenja hari. Setelah dibuka ternyata benar kata Zainab, yang menikah itu Zaini dan Ova sesuai dengan inisial yang terpampang disampul surat undangan pernikahannya.

Seperti orang bodoh aku disudut ruangan yang tak terjamah ini. Senyum yang aku sunggingkan tak ubahnya seperti pelangi yang bermacam-macam warna itu. Harapan pun kembali mengembang seperti layar kapal yang berguna untuk mengarungi luasnya samudera. Dan pada akhirnya merpati yang tersesat itu mencari pohon dan menata dedaunan untuk istirahat guna memulihkan ingatannya yang kabur agar sebuah kertas dikakinya yang terselip berbait-bait kata itu tersampaikan.